THOBIBUL QOLBY
07 Mar 2022 11:34 • 1000 dibaca
“Jika dengan bertemu, kamu akan merasakan ketenangan, lalu mengapa masih diam dan tak bergerak ? mendekatlah, karena majlis ilmu adalah tempat menyembuhkan banyak hati yang rusak”
_khodimul ma’had_
By : Ustazah Halimah S. Pd
Seorang murid yang sangat mencintai gurunya biasanya akan lebih memiliki kontak batin yang dekat, lebih merasa dan mudah dalam memahami situasi. Apalagi jika dirasa seorang guru adalah seseorang yang mencapai kedudukan wara’ karena mereka itu termasuk orang-orang yang sholihin.
Sering kali ini terjadi beriringan dengan langkah kaki saya bergerak, dalam permasalah apapun yang sedang dirasakan, kadang kita belum mengungkapkan saja apa yang dirasa seorang guru seakan sudah mengetahui isi hati kita, mengetahui apa yang dibutuhkan oleh kita bahkan selalu menjadi obat dari kerasnya hati.
Pagi itu tepat ketika santri ingin diberikan pembekalan oleh Abuya sebelum perpulangan kerumah, saya merasakan bagaimana kontak batin seorang murid dan guru begitu dekat, saat seorang murid benar-benar menjadikan gurunya adalah thobibul qolby saat itu pula mereka akan mendapatkan obat yang benar-benar mampu menyembuhkan segala penyakit yang ada dalam diri.
Seluruh santri berkumpul di lapangan tempat kami mengaji umum biasanya begitipun saya dengan beberapa teman yang ikut mendampingi santri, saya fokuskan wajah untuk melihat posisi Abuya duduk, harapnnya bisa menyimak dengan baik apa saja yang beliau sampaikan, karena waktu itu bertepatan dengan bulan ramadhan. Dari beliau jalan hingga duduk kami benar-benar terpana melihat wajah nan indah dipandang, senyum khasanya yang selalu membahagiakan orang, dan sosok gagah yang berwibawa.
Tersentuh dan terasa tertampar sekali ketika beliau menyampaikan nasehat yang pertama untuk santri-santrinya, kata Abuya (itu panggilan kami kepada beliau ) :
“Musibah yang paling berat dalam hidup bukanlah sebuah bencana, tetapi ketika Allah sudah menakdirkan kita untuk tidak mampu beribadah disitulah sesungguhnya kita mendapatkan musibah, gunakan kesempatan ramadhan ini dengan baik, selagi kita masih dikasih umur panjang oleh Allah”
Seketika air mata menetes, merasa benar-benar tertampar, nasehat ini sering kali beliau utarakan disetiap kesempatan apapun untuk mengingatkan semua muridnya agar tetap istiqomah dalam kebaikan terutama ibadah. Karena prihal umur tidak ada satu pun manusia tahu kapan menemui ajalnya, tapi selagi umur panjang dan dipergunakan untuk ibadah semoga itu menjadi amal untuk menolong kita diakhirat nanti.
Iman manusia sering kali naik turun, bahkan kadang merasa tenang dalam kemaksiatan, terbiasa melalaikan sholat dan belum tergugah ketika panggilan adzan berkumandang. Namun, jika kita menyadari hal ini lebih dalam sejatinya kita lah orang yang sedang mendapatkan musibah, karena bisa jadi pandangan Allah sudah tidak lagi tertuju kepada kita.
Kemudian beliau meneruskan pembicaraannya, memberikan nasehat kepada santri dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Ada satu nasehat yang saya kutip dan menjadi benteng untuk diri dalam menjalani sebuah profesi menjadi santri, beliau berkata :
“Seorang santri itu harus muroqobah, merasa terus diawasi oleh Allah baik di dalam pesantren maupun dilaur pesantren agar tidak melakukan maksiat”
Ini pun menjadi pesan mendalam untuk kami yang mendengarkan, rasanya tertampar berkali-kali seakan beliau mengetahui apa yang sedang kami rasakan dan memberikan apa yang sedang kami butuhkan, nasehat beliaulah yang mengembalikan diri menjadi tergugah untuk terus mengintropeksi diri dan mengubah pola hidup menjadi lebih terarah, dimanapun, kapanpun dan dengan siapapun seorang santri tetaplah akan selalu menjadi santri yang harus bisa menjaga dirinya dari hal-hal yang akan merugikannya.
Pandangan manusia memang bisa dijangkau, namun padangan Allah tidak akan ada yang bisa menutupi, semoga kita bisa menjadi manusia yang bisa terus mengabdikan diri pada Allah, melakukan sesuatu atas dasar cinta kepada Allah dan mengharap ridho dari Allah, karena guru yang sholih pula lah yang menjadi penuntun kita untuk bisa kembali kepada ajaran yang kuat dalam mengukuhkan iman dan taqwa.
“Apalagi yang kita butuhkan, jika yang didepan mata sudah mampu membahagiakan dan menenangkan, semoga Allah meridhoi kami untuk selalu mencintai Buya, ummi, dan keluarga, dan mencintai semua kebaikan-kebaikan yang beliau tanamkan”

Komentar