BreakingUpdate kegiatan pesantren, kajian, pengumuman, galeri, dan agenda terbaru tersedia di Portal Qotrun Nada.
Info
🔴 🔴
Karya Santri

Sekaleng susu dari darah suamiku

13 Jul 2022 12:53 • 1357 dibaca

By : Alumni Pon-Pes Qotrun Nada

 

"Bi, susu anak-anak habis, apakah abi ada uang, bunda mau minta untuk belikan anak-anak susu?," tanyaku pada suamiku setelah sholat subuh sambil beberes kerjaan rumah dan mengecek segala benda yang habis. Ya, aku punya kebiasaan yang cukup unik, tiap pagi, aku selalu mengecek segala sesuatu yang habis tiap pagi hari, agar seharian itu cukup untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan suamiku.

 

"Bentar bun, abi lihatkan (sambil membuka dompet beliau mengecek masih adakah uang di dompetnya). Maaf sayang, uang abi tak cukup, uang abi tinggal 20 ribu, rencana 15 mau abi belikan bensin, sebab bensinnya habis.5 ribu untuk makan siang, apa uangnya mau dibagi 2 saja, jika dirimu juga sangat membutuhkan,"  jawab suamiku

 

"Tidak bi," jawabku sambil menghangatkan nasi semalam yang belum habis. Ya keluarga kami tergolong keluarga yang cukup sebenarnya,meski hanya cukup untuk sekedar makan. Jujur pagi itu aku ingin menangis, namun kucoba tahan. Kulihat beras juga habis, namun aku tak berani bilang ke suamiku. Aku takut, aku takut menambah beban sebelum beliau masuk kerja pagi ini. Kasian beliau kalau terbebani hari ini.

 

"Nasinya sudah matang, ayo makan bi," ajakku pada suamiku.

 

Hari ini aku memasak telur dengan campuran tepung terigu yang banyak, sengaja, karena memang telur hanya tinggal 2 saja.Pagi ini kupecahkan 1, kumasak dadar bersama tepung terigu. Di wajan yang mulai panas, kutuangkan campuran adonan 2x, 1 untuk lauk anakku dan suamiku, 1 lagi untuk makan 2 anakku yang masih tertidur lelap. Anakku masih kecil-kecil, usia 3 tahun dan 2 tahun, semua lelaki.

 

Kuambil sepiring nasi dan kutaruh telur dadar yang sudah jadi diatasnya, satu lagi kutaruh telur dadar di piring lain. Suamiku sudah duduk di lantai dapur, menunggu aku selesai menyiapkan semua, ya, kami setiap makan sering sambil duduk di lantai, jangan bayangkan lantai kami keramik bagus, lantai rumah kami masih keramik lama zaman purbakala.

 

"Maaf ya bi, hanya lauk sederhana yang bisa bunda siapkan, maaf belum bisa memberikan yang terbaik untuk abi," air mataku tanpa sengaja menetes.

 

"Jangan salahkan diri bunda, bunda sudah hebat, bunda orang yang kuat, mampu menerima kondisi abi apa adanya, padahal dulu bunda bisa mempunyai suami yang lebih baik dari abi. Sebelum bunda jadi istri abi dulu, abi tahu bunda banyak dilamar orang-orang hebat.Dari dokter, pns, pemilik show room mobil, bahkan pengusaha, namun semua bunda tolak dan hanya menerima abi yang karyawan biasa di rumah sakit. Abi bangga pada bunda, jika harus ada yang disalahkan, salahkan abi, abi belum bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga kecil kita ini," kata beliau.

 

"Tidak bi, untuk saat ini lebih dari cukup, makan sepiring berdua, bukankah sangat romantis, bunda menerima abi apa adanya. Bunda hanya ingin bersama abi selamanya, untill jannah-Nya," kataku.

 

Setelah makan selesai suamikupun pergi berangkat kerja, tak lupa aku mencium tangannya, dan beliau mengecup kening dan kedua pipiku. Walau suamiku pura-pura seperti tidak ada masalah, aku tahu bahwa beliau sedang memikirkan cara membeli susu. Beliau tahu kalau anak-anak akan sulit tidur tanpa susu dan bagaimana rewelnya mereka kalau tak ada susu sebagai obat tidur.

 

Setelah suamiku pergi kupandangi dandang nasi, kubuka dan kututup kembali. Ya Allah cukupkanlah rezeki kami hari ini, siang ini aku tidak boleh makan, batinku.Aku kuat, sebagai ganti nasi, aku minum air yang banyak. Nasi di dandang hanya cukup untuk makan pagi dan siang anak-anakku.

 

Jam 7 pagi anak-anakku bangun, sebenarnya mereka bangun sebelum subuh, namun setelah sholat subuh aku tidurkan kembali, dan supaya aku bisa menyelesaikan kerjaan rumah, seperti menyapu, mengepel, mencuci baju dan lain-lainnya.

 

Seusai memandikan aku menyuapi mereka makan, lanjut setelah makan murojaah bersama 1 jam dilanjutkan bermain dan belajar, hingga tiba saatnya anakku tidur siang jam 11 siang.

 

"Bun, bobok, susu," kata kakak

 

"Susu habis sayang, doakan abi hari ini dapat rizki untuk beli susu ya," jawabku

 

"Tapi kakak mau susu bun," rengeknya sambil menangis

 

"Kakak anak sholih kan,anak cerdas,anak hebat, anak kuat, Insya Allah hafidz,calon imam di masjidil haram, abi tidak ada uang tadi pagi, jadi kakak bersabar ya, doakan abi pulang kerja ada rizki untuk beli susu," kataku memberikan pengertian kepada anakku sambil kuusap air mata yang jatuh di pipinya dan kuelus2 kepalanya sambil tiduran.

 

"Aamiin Ya Allah, Ya Allah berikanlah abi rezeki yang banyak, biar bisa belikan susu kakak,"  doanya

 

Aku mencoba menahan air mata yang mau keluar, aku ikut mengaminkan doa anak tertetuaku. Untungnya si kecil tidak suka sufor, jadi sebelum tadi menidurkan kakak, aku cukup menyusui anaku yang paling kecil.

 

------------------------------------

Di tempat kerja suami

 

"Apa yang harus kulakukan ya Allah agar dapat susu untuk anakku?Aku tak punya uang sepeserpun hari ini setelah pagi tadi untuk membeli bensin 15 ribu dan 5 ribu untuk makan siangku. Aku juga tahu beras dirumah habis, walau istriku tidak mengatakan kepadaku, karena tempat beras kami yang bening, jadi tiap beras habis aku juga mampu melihatnya waktu makan dengan istriku tadi, dia sangat pintar menyembunyikan dukanya agar tidak membebaniku, berusaha menjadi istri dan ibu terbaik untuk aku dan anak-anakku. Seringkali dia tidak makan,rela memberikan untuk aku dan anakku,Sungguh aku bersyukur memiliki dia, istri yang qonaah terhadap harta suaminya."

 

Pintu tempat kerja diketuk,akupun menyuruhnya masuk.

 

"Mas ini ada aqiqohan dari mb Nita, kebetulam masih sisa 2, teman-teman sudah dapat semua."

 

"Makasih mb,"  kataku

 

Setelah teman kerjaku pergi, bersyukurnya hati ini, makanan aqiqohan ini lebih baik kubawa pulang saja, pasti istriku lapar, lebih baik nanti dimakan bersamanya, rasanya akan lebih nikmat.

 

"1/2 jam lagi aku pulang, pasti dia akan senang aku membawakan oleh-oleh, oh iya untuk masalah susu, setelah kuingat-ingat sudah 3 bulan aku tidak ke PMI bukannya disana aku bisa dapatkan susu untuk anakku. Sekaleng susu bendera, segelas sari kacang kedelai, dan 1 pack roti roma atau malkies, ya itu ide yang bagus,nanti aku akan kesana," batinku.

 

Jam 2 siang sudah waktunya pulang, bergegas aku melajukan motor ke PMI. Setelah melewati berbagai tes, hamdallah aku bisa mendonorkan darahku.

 

Kepalaku masih agak pening,badanku masih sedikit lemas, biar tidak khawatir aku mengirim wa ke istriku agar aku bisa rehat sejenak di PMI sampai kondisiku benar-benar pulih.

 

"Bunda, maaf abi pulang telat, ada keperluan sebentar, kemungkinan bada' asar abi baru pulang, jam 1/2 4 atau jam 4 baru sampai rumah," send pesan kukirimkan.

 

"Baik bi,fii amnillah," balas istriku.

 

Segelas sari kacang ijo aku minum untuk mengembalikan tenagaku. Sekaleng susu coklat kesukaan anakku dan sepack roti malkies, alhamdulilah rezeki yang kudapat hari ini untuk anak-anak.

 

Setelah tubuh aku rasa kuat, aku bergegas pulang, mendung sudah bergelayut manja. Khawatir hujan, sedang aku masih membawa 2 dus nasi aqiqohan untuk istriku tercinta.

 

"Assalamu'alaikum," sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah.

 

"Waalaikumussalam, tunggu bentar bi, bunda sedang memakaikan baju untuk anak-anak", jawab istriku.

 

"Hore abi pulang," seru anak-anak bebarengan.

 

Selang tak beberapa lama, dia membukakan pintu, istriku memang wanita sholihah, setiap aku pulang kerja rumah sudah rapi, anak-anak sudah wangi, aku tahu setiap hari dia berusaha jadi istri baik. Aku menyerahkan 2 kantong kresek padanya, dia mencium tanganku,dan kubalas mencium kening serta kedua pipinya, yang kini terlihat embul bagiku sambil pergi untuk berganti baju.

 

"Itu dapat aqiqoh dari teman dan susu ini untuk anak-anak dari hasil donor darah di PMI, hehe, maaf belum mampu belikan susu biasa, susu kaleng ini dulu ya untuk sementara, hehehe,"  kataku

 

"Ya Allah bi, hiks, maaf hari ini bunda belum nyiapin makan, karena beras habis, rizkiminallah dapat ini, ayuk makan bareng."

 

Saat makan pintu rumah kami diketuk tetangga, ternyata mengantarkan syukuran 7 bulanan. Isinya beras 2,5 kg, gula 1/2 kg, mie 2 dan minyak 1 liter, aku dan suami saling berpandangan. Rezeki Allah itu luas, jangan pernah berhenti berharap dan senantiasa bersandarlah hanya pada-Nya. Jangan lelah berdoa dan jangan pernah ragu pada-Nya karena Allah Maha Kaya.

Komentar

Tinggalkan Komentar